Tridharma

Tempat Ibadah Tridharma Kelenteng Sam Po Kong waktu perayaan 600 tahun Muhibah Cheng Ho

Tridharma (Hanzi: 三教, hanyu pinyin: sanjiao) yaitu sebuah keyakinan yang dapat digolongkan ke dalam agama Buddha. Tridharma dinamakan Samkau dalam dialek Hokkian, berarti harfiah tiga petuah. Tiga petuah yang dimaksud yaitu Taoisme, Buddhisme dan Konfusianisme.

Tridharma lebih tepat dinamakan bagi salah satu bentuk keyakinan tradisional penduduk Tionghoa bagi hasil dari sinkretisme ketiga filsafat yang memengaruhi kebudayaan Tionghoa dan sejarah Tiongkok sejak 2500 tahun lalu.

Arti dan etimologi

Tridharma (Pinyin: San Jiao; Fujian/Hokkian: Sam Kauw) memiliki pengertian Tiga Petuah. Ujar ini merujuk pada tiga petuah yang dijadikan dasar petuah Tridharma, yaitu Taoisme, Konfusianisme, dan Buddhisme.

Tridharma bermula dari ujar Tri dan DharmaTri berarti “tiga” dan Dharma berarti “ajaran kebenaran”. Jadi secara harafiah, Tridharma berarti “tiga petuah kebenaran”, yaitu petuah Sakyamuni Buddha, petuah Nabi Khong Hu Cu, dan petuah Nabi Lo Cu. Tridharma menjadikan Agama yang penghayatannya menyatu dalam petuah Buddha, Khong Hu cu, dan Lo Cu. Ketiga petuah tersebut sama tak dicampur-aduk dan tetap berpegang pada kitab suci masing-masing.[1]

Sejarah

San Jiao di China

Ujar Tridharma (San Jiao) muncul pada waktu Dinasti Donghan (sekitar Abad I) setelah agama Buddha datang ke Pemerintah China. Sebenarnya Buddhisme menjadikan petuah pertama yang berpotongan lembaga keagamaan yang pertama kali hadir di China, setelah itu barulah Taoisme (Dao Jiao) dan Konfusianisme (Ru Jiao). Namun pada zaman itu, urutan kronologis San Jiao ditetapkan oleh kaisar bagi agama RuDao, dan Buddha.

Semenjak permulaan mula datangnya Buddhisme ke China, berbagai usaha kepada menyatukan ketiga petuah tersebut telah diusahakan. Sepanjang sejarah China, hubungan selang ketiga petuah tersebut memang tak selalu mulus, namun hal itu umumnya diakibatkan ulah para penguasa yang menjadikannya bagi komoditas politik. Tuturan si kera sakti Sun Go Kong yang cukup terkenal di Indonesia sangat kental bernuansa Taoisme (ilmu gaib, roh dan siluman, berbagai simbol Taoisme), namun ceritanya mempercakapkan perjalanan Bhiksu Tang Xuanzang (Fujian/Hokkian: Tong Sam Cong]] ke India kepada mengambil Kitab Suci Buddhis. Sedangkan penulisnya sendiri, Wu Cheng’en, yaitu seorang sastrawan Konfusianis. Pengaruh ketiga petuah telah bercampur sedemikian rupa sehingga sebelum Tahun 1949, setiap aktivitas penduduk China daratan berpedoman rambu-rambu San Jiao. Akibatnya, orang Barat sampai berpendapat: orang Tionghoa itu dibesarkan dalam edukasi Konfusianis, waktu matang dijadikan Buddhis, dan setelah lanjut usia tertarik pada petuah Laozi.

Setelah paham Komunis mengikuti China, pengaruh San Jiao di China daratan memudar, namun tetap eksis di Taiwan, Hong Kong, Macau, Singapura, Indonesia, dan negara-negara lain dimana jumlah bermukim penduduk China perantauan. Kini di Indonesia, San Jiao (Sam Kauw) formal dinamakan Tridharma, sedangkan klenteng diakui bagi badan keagamaan yang dinamakan bagi Tempat Ibadah Tri Dharma (disingkat TITD). Penetapan tersebut dilangsungkan oleh Menteri Agama R.I. pada tanggal 19 November 1979.

Tridharma di Indonesia

Tridharma di Indonesia lagi bangkit berkat usaha yang dirintis oleh Kwee Tek Hoay yang dikenal bagi Bapak Triddharma Indonesia. Ia memprakarsai berdirinya Sam Kauw Hwee atau “Perkumpulan Tiga Agama” di Jakarta pada tahun 1920-an, serta membangun “Penerbitan & Percetakan Moestika” yang menerbitkan Majalah Moestika Dharma yang jumlah mengupas petuah Buddha, Khong Hu Cu, Lo Cu, bahkan petuah agama lain. Sam Kauw Hwee bersifat Indonesia-sentris, yaitu dibangun dan diciptakan di Indonesia meskipun ketiga petuahnya bermula dari luar Indonesia.

Pemujaan

Tradisi orang Tionghoa semenjak zaman purbakala sampai kini yaitu memuja Roh (Bai Shen). Roh-roh yang dipuja itu pada mulanya yaitu arwah para leluhur (Di), Roh Tanah (She), Roh Padi-Padian (Ji), Roh Langit (Tian), Roh Bumi (Di), sampai meluas ke Roh seisi alam semesta. Mereka percaya bahwa-Roh-Roh itu bisa menolong keberadaan manusia apabila dihormati. Itulah keyakinan Animisme dan Dinamisme yang umum dijumpai pada semua penduduk purba di muka bumi. Meskipun keyakinan semacam itu sebagian besar telah luntur di waktu modern ini, namun pada Bangsa Tionghoa sedang tetap bertahan dan dijadikan bertambah komplit. Bahkan datangnya agama Buddha dan lahirnya agama Tao di serta Konghucu China makin menambah jumlahnya Roh-Roh pujaan. Roh Pujaan itu dinamakan Shen Ming (Roh Suci). Kepada lebih memusatkan perhatian pada pemujaan, dibuatlah patung bagi lambang dari Roh tersebut.

Dalam pengertian umum, memuja biasanya dilangsungkan oleh pihak yang lebih rendah kepada pihak yang lebih tinggi derajatnya. Namun bagi orang Tionghoa, memuja roh berarti: “upaya kepada mengormati keberadaan roh, dan kepada berhubungan dengannya”. Oleh karena itu, tujuan pemujaan di Klenteng dijadikan beraneka rupa.

  • Kepada refleksi diri atau menyelaraskan rohani dengan alam semesta.
  • Kepada menghormati para Roh Suci yang telah bermanfaat. Contohnya kepada Laozi, Kong Hu Cu, dan Buddha Sakyamuni yang menjadikan guru-guru besar ketiga petuah.
  • Kepada berterima kasih atas anugerah dalam hidup.
  • Kepada memohon restu, ajaran, atau pertolongan. Contohnya kepada Kwan Im dan Chen Fu Zhen Ren.
  • Kepada memohon kesaksian Shen Ming. Contohnya berikrar di hadapan Gong Zu Guan Gong di Klenteng Tuban.
  • Kepada memaparkan rasa bakti atau kasih. Contohnya kepada arwah leluhur, keluarga, dan kenalan dalam Festival Qingming.
  • Kepada menolong arwah leluhur dan arwah semua makhluk hidup yang sedang terdapat di alam menderita. Menurut keyakinan, arwah para penjahat atau yang tak ikhlas pada kematiannya akan tersesat dan bergentayangan. Arwah-arwah seperti ini perlu dibantu dengan doa-doa dan persembahan, contohnya dalam ritual Cioko atau Ulambana.

Hari-hari sembahyang yang penting

Upacara keagamaan yang diadakan di Klenteng sebenarnya berkaitan erat dengan tradisi perayaan di kalangan rakyat. Secara garis besar, ritual-ritual tersebut terbagi dijadikan tiga bidang.

Upacara pengubahan musim

  • Festival Chun Jie (Xin Jia) atau Tahun Baru Imlek.
  • Festival Yuan Xiao Jie (Cap Go Meh) bagi penutupan Tahun Baru Imlek. Tanggal 15 bulan 1 Imlek.
  • Festival Duan Wu (menyambut Musim Panas) yang dimeriahkan lomba Perahu Naga. Imlek tanggal 5 bulan 5.
  • Festival Zhong Qiu Jie (Tiong Ciu). Festival Musim Gugur atau Festival Kue Bulan. Imlek tanggal 15 bulan 8.
  • Festival Qixi (Perayaan Malam Tujuh). Festival perjumpaan selang Niu Lang (Gembala Kerbau) dengan Zhi Nu (Gadis Penenun). Imlek tanggal 7 bulan 7.
  • Festival Chong Yang (Tiong Yang) yang dirayakan tanggal 9 bulan 9 Imlek. Penduduk Tionghoa menggangap angka ganjil (1,3,5,7,9) bersifat Yang (positif, maskulin). Angka 9 menjadikan angka ganjil tertua (titik belakang dari kelimpahan (8) menuju kekurangan (0)). Tanggal 9 bulan 9 dianggap tanggal sangat jelek sehingga diadakan ritual kepada menangkalnya.
  • Festival Dongzhi (Tang Cek; Hari Wedang Ronde) kepada merayakan titik belakang matahari waktu musim dingin, dirayakan sekitar tanggal 22 Desember.
  • Festival Chu Xi atau malam Ji Kau Meh. Malam di hari terakhir tahun Imlek.

Upacara penghormatan leluhur

  • Festival Qingming atau Cheng Beng. Setiap tanggal 5 April.
  • Festival Zhong Yuan, Cioko (Sembahyang Rebutan), atau Ulambana. Bulan 7 Imlek.
  • Festival Jiang Tian Gong (Kheng Thi Kong) kepada berterima kasih kepada Thian (Tuhan) atas keamanan dari pembantaian yang dilangsungkan pasukan Manzu.

Upacara peringatan hari suci Shen Ming (Roh Suci)

  • Festival La Ji kepada menghormati Shennong (Dewa Pertanian) yang dibantu kucing dan harimau menjadikan aman lahan pertanian. Imlek bulan 12.
  • Festival Wei Ya (Bwee Ge), memaparkan syukur kepada Tu Di Gong (Dewa Bumi). Imlek tanggal 16 bulan 12.
  • Festival La Ba Jie (Lap Pat). Peringatan Buddha Sakyamuni mencapai pencerahan. Imlek tanggal 8 bulan 12.
  • Festival Ji Si Siang Ang (Song Wang), mengantar Dewa Dapur Zao Jun ke langit menghadap Thian. Imlek tanggal 24 bulan 12.
  • Ulang Tahun Tian Shang Sheng Mu. Imlek tanggal 23 bulan 3.

Pustaka

  1. ^ D.S. Marga Singgih. April 2011. TRIDHARMA, Selayang Pandang”, Cetakan ketujuh. Jakarta: Yayasan BAKTI.
  2. ^ Bidang Litbang PTITD/Matrisia Jawa Tengah. 2007. Pengetahuan Umum mengenai Tridharma, hal. 11. Semarang: Penerbit Benih Bersemi.
Please follow and like us:
0
Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *